8 May 2015

Hidup itu pilihan

Akhir-akhir ini lagi diminta membuat banyak pilihan deh.
Sebel sebenernya karena saya ini orangnya lemah :)

Serius deh seumur hidup, saya ini jarang memilih, tapi lebih terbiasa dipilih.
Haha..

Jadi ya saya tidak punya kemampuan untuk membuat pilihan.

Saya ini gampang galau kalo sudah dihadapkan pada pilihan,
Apalagi kalo sudah punya anak, makin banyak yang harus dikonsiderasi (opo iki bahasa indonesianya :p)

.....


Jadi flashback dulu ya ketika masih di jepang.

Awalnya prof. Pembimbing menawarkan posisi research assistant selepas program teacher training saya,
Jadi menurut beliau, tanpa beasiswa pun saya tetap bisa melanjutkan S3 saya di sana.
Again, ini semua adalah simbiosis mutualisme.
Prof. Butuh mahasiswa, saya butuh pekerjaan (di jepang).

Tapiii seperti yang sudah diceritakan di sini, kondisi keluarga membuat saya harus memutuskan untuk pulang.
Demi Tuhan saya ikhlas.
Ya ada sih sedih sedikit, tapi rasanya tidak adil meminta suami kembali mengalah untuk saya.


Singkat cerita, saya mulai menghubungi beberapa teman lama di indonesia, untuk mencari pekerjaan :)

Salah seorang teman menawarkan posisi tertentu di sebuah universitas ternama di jakarta.
Tanpa mikir dua kali, saya langsung jawab OK.

Tenang dong ya pulang ke indonesia dengan pekerjaan mentereng di tangan.


3 bulan menjelang kepulangan, saya kirim semua dokumen yang dibutuhkan untuk keperluan employment.

She just said OK without further explanation.
Awalnya saya bingung kenapa tdk ada interview dsb,
Tapi karena saya percaya dengan teman saya ini, jadi saya ga ambil pusing.
Pikir saya ketika itu, oh mungkin nanti interviewnya ketika saya sudah di tanah air.


Seriba di tanah air, saya langsung mengontak teman saya ini, berharap mengetahui kejelasan proses rekrutmen yang sudah dibahas beberapa bulan sebelumnya.

Ternyata dia menginfokan posisi yang dimaksud sudah terisi,
Ya kaget dong saya!
Sampai berkali2 saya baca kembali catatan percakapan kami beberapa bulan sebelumnya.
Tapi ya sudahlah, mungkin memang kampus ini sedang butuh orang cepat.

Teman saya ini pun kembali menawarkan beberapa posisi lain sebagai alternatif.
Saya kembali mengiyakan.

Sudah saya bilang kan, saya ini lemah orangnya.

Kembali saya menunggu tanpa kejelasan,
Sampai akhirnya tak terasa sudah sebulan saya di serpong tanpa ada kepastian apa pun.


Akhirnya saya harus mengambil keputusan, ga bisa saya menanti2 digantung tanpa ada kejelasan seperti ini.

Akan lebih enak seandainya teman saya ini jujur menjelaskan apa yang terjadi,
Tapi saya terlalu malas untuk mengorek2 lebih dalam.



Jadi Berbekal koneksi di dunia pendidikan selama 10 tahun (eciyee), saya mendapat tawaran di beberapa tempat.

Tentu saja tetap melalui tahap interview dan demo teaching, jadi saya tidak merasa nepotisme :)))))


Sampai akhirnya minggu lalu, salah satu institusi pendidikan ini memberikan final offer dan benefit untuk saya, yang mana sayangnya waktu yang diberikan terlalu mepet dengan jadwal demo teaching di institusi lain.

Ya gitu deh.

Benar2 minggu yang bikin gundah.

Saya harus memilih.

Menerima tawaran institusi ini,
Atau bersiap demo teaching di institusi lain,
Dan interview awal di institusi yang lain lagi.


Aduhhh beneran saya sedih..


Saya tidak bisa memilih!


Mungkin orang lain bisa bilang, duile begitu doangg.. Lebay deh tya..


Tapi buat saya, ketika dihadapkan pada yang seperti ini, saya bingung.


Kalau belum punya anak, saya pasti akan gambling menjalani demo teaching di institusi idaman,
Tapiii karena berkaitan dengan anak,
Yang mana harus berpikir panjang tentang lokasi dan jam kerja,
Saya harus kembali berpijak ke realita.


Jadiii setekah berdoaaaa..
Diskusi sama suami..

Saya memilih untuk menerima tawaran pertama dan melepas institusi idaman.
Apalagi karena contact person di institusi ini sangat baik.
Iya saya sudah bilang kan saya ini lemah :)




Jujur hati kecil saya rasanya tak karuan.
Konsekuensi dari membuat pilihan ternyata begini ya :)))


Tapi ya sudah,
Saya sudah memutuskan,
Dan semoga ini yang terbaik.

Kalau memang jodoh,
Tahun depan kembali saya mengejar impian saya di tempat idaman.



Dan sekarang, saya akan memberikan yang terbaik untuk institusi yang sudah melamar saya ini.


Wish me luck! 

0 observations:

Post a Comment