22 August 2014

How i met our president: season finale

Mudah2an dengan ketok palu oleh pak hakim ganteng semalam, semua drama pilpres ini berakhir sudah.

Saatnya indonesia kembali bersatu,
Untuk masa depan depan yang lebih baik.

Sungguh saya pribadi merasa lelah melihat perjalanan pilpres kali ini.

Segala black campaign, yang herannya dengan mudah ya dishare sama orang2, yang menurut saya pintar, tapi nyatanya percaya aja kabar seperti itu tanpa sebelumnya melakukan crosscheck.

Untuk yang berteman dengan saya di facebook mungkin KZL juga ya liat saya sering banget komen di status temen yang hobi share berita2 sampah begitu :)

Tapi kalau boleh saya rangkum perjalanan jempol saya selama pilpres ini, rasanya bisa dibagi dalam 3 bagian:


1. Saya akan komen di halaman facebook teman GURU saya.

Bukannya apa2, menurut saya guru itu panutan, apalagi kalau di facebook berteman dengan ortu murid atau murid. Males aja ga sih liat facebook guru yang hobi banget share berita2 salah dari pkspyongpyang macam berita tentang ayah jokowi yg katanya china endesbra endesbre.

Saya menulis ini bukan karena saya pendukung jokowi.
Kalaupun kondisinya dibalik,
Saya tetap akan pilih2 berita mana yang layak saya share.

Sebagai guru yang menuntut muridnya menggunakan akal sehat dan logika dalam setiap tulisan yang dibuat, maka hal itu pulalah yang pertama kali saya lakukan.


2. Saya akan komen di halaman facebook orang yang menggunakan dunia pendidikan untuk menjatuhkan lawan.

Yes dear, ketika kalian menggunakan isu seragam sekolah utk menjatuhkan our governor, ketika itu pulalah jempol saya bergerilya.

Asli ya ga ngerti saya sama orang2 yang segitunya.
Apakah kalian tahu PR di dunia pendidikan kita ini masih sangat banyak?
Dan komen2 negatif kalian itu sangat tidak membantu.
Apalagi kalau sudah negatif, salah pula.
Dobel deh bikin KZL nya...

Seriusly dear, halusinasi kalian tentang SYIAH ataupun WAHYUDI tidaklah nyata..


Dari hari pertama saya membaca berita tentang isu seragam sekolah, saat itu pula saya mengontak teman di jajaran sana, dan beliau menjelaskan panjang lebar kondisi yang terjadi, 
Dan ketika saya minta ijin utk men share semua percakapan ini, beliau meminta saya menunggu karena dalam beberapa hari our governor akan menjelaskan sendiri.
Okesip meskipun GMZ tapi saya hormati persahabatan kami.


Jadi gitu ya,
Kalau masih kabar burung,
Ga usahlah ya disebar2 apalagi ditambah2i komen yang kalo ternyata nanti salah bikin malu aja..


3. Saya akan senang hati komen di halaman orang yang kalau diskusi menggunakan banyak sekali logical fallacies dalam argumennya, atau justtru tidak menggunakan logika sama sekali dalam argumennya, atau bahkan tidak tau apa itu logika.


Capek kan?

Nah makanya udahan ya..

It's not about bullying, baby..

Ini tentang mengajarkan pola berpikir yang benar ke anak2 kita..

Yang harus diajarin duluan siapa?
Ya tentu ibu2nya..

Cinta boleh saja,
Tapi tetap logika harus jalan.

Kalau bisa ga bikin macet, kenapa harus demo bikin macet?
Kalau bisa demo damai, kenapa juga harus merusak taman dan sarana umum?

.. Dan masih banyak logical fallacies lainnya yang sayangnya sudah terlanjur tertanam...


Sungguh PR berat untuk guru2 di luar sana...


Makanya yuk sudahan ya bikin argumen2 aneh...
Mending sekarang kita bergandengan tangan,
Kita bangun negara ini.

Kita kawal presiden dan wakil presiden yang baru,
Kita kritik kalau beliau melenceng dari janji demokrasi
Dan kita juga harus berjanji untuk mendidik kita menjadi dewasa untuk sungguh menjadi bagian dari bangsa ini.

Merdeka!

3 comments:

  1. Sebenernya dalam surat tugas guru itu seinget gue ada bagian yang menyebutkan kalo orang tsb gak boleh ada preference politik di umum alias kudu netral. Tp yg ngeselin itu kan banyak guru yg sok akrab sm murid dan add2 socmednya murid tp isi socmed dia serba politik.

    ReplyDelete
  2. iyaaa sudah capek baca berita gak jelas tentang capres..sampe2 nggak bisa mbedain mana yang bener dan mana yang nggak bener, blom lagi yang pada saling hina di sosmed haduh males banget. Semoga setelah ini aman tentram nggak pake rusuh2 hehe...

    ReplyDelete