Skip to main content

menitip anak pada ortu? ini etikanya!

wow ada artikel bagus banget di MD.
ijin copas di sini ya,
mudah2anj adi refleksi buat siapapun yang baca :)

..................



Beberapa hari lalu saya menyaksikan film Parental Guidance yang dibintangi Billy Crystal, Bette Midler, dan Marissa Tomei. Filmnya pas banget dengan kondisi saya. Kenapa? Karena saya gemar menitipkan anak pada orang tua untuk diawasi.

Memang sih, alur cerita Parental Guidance dan tema besarnya bukan tentang itu, thok. Tapi entah kenapa, yang lebih “jleb” justru urusan menitipkan anak pada ortunya itu, lho. Saya bisa melihat persoalan ini dari perspektif orangtua alias kakek dan nenek.

Hingga saat ini, saya masih suka menitipkan Nadira di rumah mertua saya. Kebetulan, rumah mertua hanya beda beberapa rumah dari rumah kami. Kemudian, suami saya itu tipe paranoid, yang enggan meninggalkan anak berdua saja dengan ART di rumah. Jadi, deh, setiap pulang sekolah, Nadira ke rumah neneknya dan dijemput saat kami pulang kantor. Meski begitu, saya tetap menugasi pengasuh Nadira untuk meladeni semua kebutuhannya. Jadi mertua saya hanya mengawasi saja.

Itupun kami masih suka merasa nggak enak. Saya dan suami takut kalau mertua jadi terbebani atau terkekang. Makanya kami berusaha keras agar kehadiran Nadira di rumah mertua tidak merepotkan beliau. Untuk makanan, susu dan snack, saya siapkan sendiri. Kemudian, kami juga memberi uang bulanan kepada mertua sebagai “kompensasi”. Awalnya mertua menolak, tapi karena kami yakinkan dengan argumentasi yang masuk akal, akhirnya beliau mengerti.

Kenapa kami mau repot-repot begini? Sebab kami berusaha memberi batasan. Nadira adalah anak dan tanggung jawab kami. Semua kebutuhannya HARUS kami yang penuhi. Jangan sampai karena kami lalai memenuhi, Nadira jadi merepotkan orang lain, meski itu kakek dan neneknya sendiri.

Ternyata, pedoman ini juga dianjurkan oleh seorang psikolog terkenal. Saya pernah baca rubrik konsultasi yang ia asuh di sebuah tabloid. Saat itu, ia menjawab pertanyaan seorang ibu yang mengeluh karena masih tinggal bersama mertuanya.
Saya lupa kalimat persisnya, tapi kira-kira tulisan sang psikolog begini, ya:

“Ibu saya itu sakelijk kepada anak dan cucunya. Saat saya menitipkan anak, ibu membolehkan. Tapi saya harus membawa pengasuh anak dan kebutuhan anak saya sendiri. Ibu menegaskan, anak saya adalah tanggung jawab saya. Jadi beliau bersedia dititipi anak, tapi hanya mengawasi dan mengajaknya bermain, bukan memandikan, menyuapi atau mengejar-ngejarnya. Itu sepenuhnya adalah tanggung jawab orang tua si anak, yang bisa didelegasikan ke pengasuh.

Selain itu, ibu saya juga tegas jika ada anaknya yang tinggal di rumah. Si anak harus membayar biaya listrik, biaya makan, dan lain-lain. Tidak ada namanya menumpang gratis. Apalagi jika si anak menumpang tinggal bersama istri/suami dan anaknya. Ia harus mengurus segala sesuatu sendiri, mulai dari makanan, cucian sampai membersihkan kamar. Rumah ibu saya ibaratnya hanya sebagai kos-kosan. Si anak dan keluarganya harus bertanggung jawab atas semua kebutuhannya sendiri dan membayar kewajibannya tiap bulan.

Memang banyak saudara yang kaget dengan sikap ibu. Tapi menurut saya, justru inilah yang terbaik. Saya dan adik-adik saya jadi terbiasa mandiri, baik secara psikis maupun finansial serta menghormati ibu sebagai orang tua maupun sebagai seorang pribadi. Jika ibu saya tidak tegas seperti itu, bisa jadi anak-anaknya akan bertingkah seenaknya dan memperlakukan ibu dengan tidak hormat. Tugas ibu mengurus anak-anaknya kan sudah selesai saat anak-anaknya mandiri. Masa harus ditambah dengan mengurus cucu dan anak-anaknya yang sudah menikah?”

Siapa yang merasa “jleb” dengan komentar sang psikolog tadi? *tunjuk diri sendiri hehehe…*

Makanya saya merasa beruntung punya suami yang satu visi untuk urusan ini. Bahkan suami saya lebih lebay. Dulu saat saya masih tinggal nebeng sama mertua dan orang tua saya, suami selalu membelikan beras, minyak dan kebutuhan rumah tangga lainnya untuk mertua dan ortu saya. Alasannya, kami sering tinggal dan numpang makan, plus menitipkan Nadira. Padahal saya berpikir, memberi uang bulanan saja sudah cukup.

Anyway, poin-poin etika menitipkan anak pada orang tua mungkin bisa dirangkum sebagai berikut:
  1. Awali semua dengan rasa “tidak enak”. Jangan mentang-mentang itu orang tua atau mertua sendiri, lantas kita bisa seenaknya menitipkan anak. Kita sudah jadi orang tua, lho, anak adalah tanggung jawab kita sepenuhnya, bukan orang lain meski itu kakek dan neneknya sendiri.
  2. Penuhi kebutuhan anak agar tidak membebani ortu kita. Bu Elly Risman pernah berkata, “Tubuh kami (ortu, Red), tidak didesain untuk mengejar-ngejar cucu. Kami ini sudah renta. Anak adalah tanggung jawab ortunya, bukan kakek neneknya.” Jadi kalau kita mau menitipkan anak, sediakan pengasuh dan segala kebutuhan anak. Kalau kepepet, seperti pengasuh pulang kampung misalnya, minimal sediakan segala kebutuhan anak. Jangan sampai menyusahkan ortu secara fisik dan finansial sekaligus.
  3. Berbeda pola asuh dengan ortu? Terima sajalah. Itu, kan, risiko yang kita ambil saat memutuskan untuk menitipkan anak pada ortu, bukan? Kalau tidak mau, ya, jangan titipkan anak, dong. As simple as that :)
  4. Kalau memang ada yang mengganjal sekali, utarakan dengan hati-hati. Kita bisa kan bersikap ekstra hati-hati bahkan memanjakan ART/nanny dengan tujuan agar mereka tidak mudik? Lalu kenapa sama ortu sendiri nggak bisa? Padahal mereka yang melahirkan dan mengasuh kita sejak kecil, lho.
  5. Kasih sayang ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah. Ingat pepatah tersebut? Oleh karena itu, menurut saya, sebanyak apapun saya memberi uang atau harta benda pada ortu dan mertua, tetap tidak akan mampu membalas semua yang pernah mereka berikan. So please be generous to your parents, tentu sesuai kemampuan ya. Apalagi jika ortu kita sehari-hari membantu mengasuh anak. Sebisa mungkin berikan uang bulanan meski hanya sedikit. Kalau ortu menolak, berikan hadiah-hadiah kecil sebagai kejutan. Entah itu makanan kesukaannya, blus cantik atau pajangan favorit. Minimal, berikanlah perhatian kepada mereka because it’s the least that we can do, right?
Sudah, ah, segitu dulu. Saya jadi terharu sendiri mengetiknya, nih :’)

Comments

  1. setuju banget gua...

    gua malah suka berasa aneh sendiri kalo ngebaca orang2 yang curhat di blog nya cerita kok mama/mertua nya suka ngajarin/berlaku yang gak sesuai ajaran mereka ke anaknya. lha kalo nitip ya jangan protes dong ya... hahaha

    ReplyDelete
  2. emak gw emang di design jadi mandor boook... karena doi lebih galak. Kalo gw ngurus anak sendiri gw ga mau punya nanny gw payah soal urusan mengawasi dan nyuruh-nyuruh wkwk..

    kalo ntar gw punya cucu kalo dititipin gw bingung gmn ngawasinnya :D

    ReplyDelete
  3. Sebagai anak yang masih nebeng sama ortu *nunduk* ini agak jleb hahahaha... tapi emang hal-hal yg tertulis di atas bener semua. Di rumah sih bukan memberlakukan masalah ala kosan lagi. Tapi karena anak2nya udah pada gede, ya emang menanggung semua kebutuhan satu rumah. Istilahnya, ya emang bener sih ortu udah jatahnya leyeh2 di hari tuanya :D

    Kalo masalah pengasuh ini yang sulit, eyangnya Tara emang ga mau ada pengasuh megang Tara. Jadi mbak di rumah fungsinya cuma cuci-sterika-nyapu-nyepel-beres doang. Karena Tara udah gede, masalah makanan udah bisa nebeng mamah hiyahahaha.. palingan gw stock beberapa macem makanan bekuan, misal nugget. Jadi cuma nebeng sayurnya aja sama mama. Susahnya sih emang masalah ajaran/aturan, karena dimana2 eyang kan lebih sayang cucu ya #curcol, tapi so far sih yg gw terapin n ortu gw terapin ke Tara ga beda jauh. Heuheuheu..

    *nabung buat beli rumah di BSD*

    ReplyDelete
  4. Aih artikel eikeh dipejeng di sini juga. Aku tau maksudmu dengan menggarisbawahi dan nge-bold beberapa bagian di situ Ty. Kalo gue, pengennya malah forward aja nih artikel ke orang ysb, supaya "ketampar" gitu. Tapi takut dibilang ikut campur urusan orang lagi :(

    ReplyDelete
  5. uwaaaaaaaaaaa, ini bener2 menohokkkkkkk sangaatttt, malah kadang2 aku suka komplain sm mamaku klo misalnya si anak minum susu kebanyakan , gara2 mamaku ga tega denger rengekan anakku :(( nyesel bangetttt :((
    makasi atas share artikelnya, ijin copy di blogku yah

    ReplyDelete
  6. ijin link ya mbak ira n mbak tia...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Uang Pangkal Sekolah

setelah dihitung2 ulang, ternyata investasi LM saya yang cuma 10 gr/tahun (200rb-an/bln)  harus direvisi nih....
hehehe...

kalo bertahan di angka tersebut, uangnya cuma bisa utk masuk TK,
sementara utk masuk SD setidaknya butuh 20gr/thn (400rb-an/bln)

hoshh...hoshh...

untuk masuk SMP lebih parah lagi...
makin ga kekejar kalo 'cuma' LM ternyata.
apalagi kalo AsPend n TaPend,
makin ga nyampe deh angkanya.
busetttt...

Menginap di caravan hotel - taman safari indonesia

Sekitar bulan februari (kalo ga salah) liat foto2 kak @sondangrp dkk camping rame2, kok kayaknya seru.

Trus jadi pengen.
Tapi pas liat rate nya, kok mahal! Haha..

Akhirnya diskusi sama ibu2 cabe rawit di grup dan keluarlah ide menginap di caravan ini.
Ratenya separuh dari tempat camping kak sondang, dan tempatnya masih berbentuk 'bangunan' jadi bisa semacam pemanasan sebelum anak2 camping beneran di tenda.
Untungnya jeng lia berbaik hati ngurusin dan booking jadi kita bisa dapet 3 caravan yang deketan (dan lokasinya enak!).

Fyi, kita booking dari maret utk menginap akhir mei ini.
Untuk rate caravan di wiken: rp. 1.050.000 include breakfast utk 4 orang. Plus kita bisa beli 4 tiket safari seharga rp. 100.000 (dari rp. 150.000).
Lumayan ya!

Dan pas akhirnya sampe sana, Aduhhh senengg deh..

Lokasinya benar2 di tengah hutan, Jadi pohon2 pinus tinggi di mana2, Ada air terjun mini, Kolam angsa, plus ada monyet dan rusa di dekat restoran.

Anak2 heboh deh liat beginian :)))

Asli ya anak…

Perpanjang paspor di BSD

Sejak akhir tahun 2015,
Mastin akhirnya menghampiri warga BSD dalam hal pengurusan paspor
(Oh ada yg ga tau mastin? Coba deh gugling dengan keyword jingle mastin.. Dijamin terngiang2... Ahahahhahaha)


Singkat  kata, per 30 desember 2015 sudah dibuka kantor imigrasi kelas 1 tangerang cabang BSD.
Lokasi di ruko golden boulevard, tepat di sebelah natasha skin care.
Kalo bapak-bapak biasanya sih tau ruko golden boulevard soalnya banyak tempat pijat plus-plus :)))))

Nah berhubung bakal pergi bistrip bulan depan sedangkan paspor habis di bulan mei, jadi tadi saya dan si ayah nyobain perpanjang paspor di ruko yang cuma sepelemparan kolor dari rumah (uhuk pamer




Sayangnya untuk layanan online dan pembuatan e-paspor belum bisa dilakukan di sini, Jadi tadi kami datang pukul 7.30 untuk ambil antrian.
Menurut petugas, dalam satu hari dibatasi 100 nomor antrian, supaya tidak terlalu chaos.
Tadi pagi sih lumayan tertib ya antrian ambil nomornya.
Setelah ambil nomor, kami isi-isi dokumen lalu duduk sa…