11 May 2010

Makna Sebuah Titipan

Tulisan ini disadur secara secara lengkap from my favourite blogger, Dinda :)

bagusss....bangeddd.....
*Gosh...I always love her writings*

--------------

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,bahwa :
sesungguhnya ini hanya titipan,




bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,


tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?


Dan kalau bukan milikku,apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?


Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.


Ketika aku berdoa,kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.


Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah,


maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.



Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,


Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…


“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”



~WS Rendra~

----------------------------

Ya, semua di dunia ini yang kita punya hanya titipan.
Kapanpun Allah mau,
 Dia bisa ambil semua yang sudah dititipkan ke kita.


Orang tua, suami, istri, harta, anak, teman,
kepintaran, ingatan, gaji yang besar...
semua bisa hilang kapan saja..


Siapakah kita yang merasa berhak untuk "sombong"
dan berpikir kalau kita lah orang yang paling layak
untuk menerima semua titipan tersebut diatas?


Siapakah kita yang merasa
bahwa dengan menerima semua (yang hanya) titipan tersebut,
berarti kita lebih layak daripada orang lain?
Bahwa kita lebih baik daripada orang lain?
Bahwa kita bangga kalau kita mendapat titipan itu dan orang lain tidak?


Apakah orang yang kaya raya boleh meng-klaim
bahwa dia begitu baik 
sehingga di mata Allah
dia lebih berhak kaya dibandingkan pengemis di pinggir jalan?


Apakah pengemis itu ternyata orang yang sangat jahat
sehingga dia diberi penderitaan?


Apakah orang yang pintar
bisa mengklaim bahwa hati dia begitu suci nya 
sehingga di mata Allah dia lebih berhak menjadi pintar
dibandingkan orang yang terbelakang?


Selama ini sudah beragam kehidupan dan karakter orang yang pernah saya lihat..


Ada keluarga yang kaya nya ampun-ampunan,
tapi sikapnya jahat sekali ke orang-orang..

tapi ada juga keluarga yang kaya raya
tapi sekeluarga rendah hati dan baik hati ke orang-orang..


Ada orang yang sangat pintar tapi pelit berbagi ilmu..
Ada orang yang sangat pintar
tapi dia rendah hati
dan tidak segan membagi ilmunya..


Ada orang yang gaji pas-pas-an..tapi gaya selangit..
Ada orang yang gaji nya luar biasa besar,
tapi justru rendah hati dan tidak koar-koar...


Kemarin saya nonton Oprah..
Ada seorang anak dari seorang serial killer di wawancara.. 
Ayahnya sudah membunuh 8 orang
dan sama sekali tidak merasa bersalah, malah ketawa-ketawa..


Tapi ada juga pasangan suami istri yang sangat baik
tapi tidak mampu mempunyai anak, 
kemudian mengadopsi anak yang kurang mampu..


Apakah serial killer itu lebih baik daripada suami istri tersebut
sehingga dia yang dikaruniai anak?


Siapa sih kita yang merasa paling berhak untuk sombong?


Kadang orang lupa kalau hal-hal yang baik itu
kadang juga merupakan ujian..

Kadang orang lupa kalau hal-hal yang (terlihat) jelek itu
justru mungkin sebuah kesempatan.


Kesempatan?


Iya, kesempatan.

Ada orang yang ga suka sama kita dan menjelek-jelekan kita, 
itu bisa jadi kesempatan kita untuk mengurangi dosa dan nambah pahala.
Tapi di sisi lain, mungkin kita juga harus introspeksi.
Jangan-jangan kita memang seperti yang dituduhkan itu..
Bisa menjadi kesempatan untuk jadi orang yang lebih baik..


Tiba-tiba dipecat dari kerjaan?
Bisa jadi kesempatan untuk memiliki waktu lebih bersama keluarga,
Bisa jadi kesempatan untuk menikmati "liburan" sementara..


Untuk saat ini,
Hargai semua titipan yang dikasih ke kita..
bersyukur aja..
Karena tidak semua orang seberuntung kita..


Tapi kalau kita sombong dengan titipan tersebut,
dan merasa berhak untuk menyakiti orang lain,
jangan lupa...
Kalau itu semua cuma titipan..
Bisa hilang kapan saja..


Singapore, 6 May 2010.

A note and reminder to self..
Untuk tidak menjadi sombong,
Untuk selalu ingat kalau di atas langit masih ada langit..
Untuk tidak menyakiti orang lain..

2 comments:

  1. Iya Tya, benar sekali kalau semua itu cuma titipan dan ujian. Tidak ada sesuatu yang baik atau buruk terjadi pada kita tanpa ijin dariNya. Saya dikasih penyakit seperti ini(sama dg tya malah lebih parah)& belum hamil2 juga, mungkin ada hikmah dibalik ini semua,terima saja,berusaha & banyak2 berdoa saja mohon yang terbaik(sekalian nasehatin diri sendiri jeng) :)

    ReplyDelete
  2. @ lina
    yes bu...kita cuma bisa berpasrah dan terus percaya bahwa Tuhan punya rencana yg lbh indah untuk kita.
    kadang ga ngerti memang, tapi setelah dijalani ya ternyata memang semua yang terjadi sama kita bikin kita lebih kuat.

    ReplyDelete