30 March 2010

Jalan panjang menuju rumah impian...urusan sama bank...

okeh....setelah mendapatkan rumah yang diinginkan, ternyata prosesnya masih panjang untuk bisa memiliki rumah yang kita mau.

sebenernya untuk rumah second ada 2 cara yang bisa kita tempuh: pake agen property ato jalan sendiri.

kalo pake agen peroperty, ada baiknya kita mengenali perusahaan tempat dia bernaung.
pilih yang memang punya track record bagus.



pengalaman ketemu sama beberapa agen properti, lebih enak sama agen cewek.
bukannya mau feminis, tapi agen cewek biasanya menjelaskan rumah dari segi 'perempuan'
jadi kita lebih bisa membayangkan masa depan kita di rumah itu.

misalnya: di sini lokasinya enak bu, deket sama sekolah jadi nanti ibu ga repot anter-jemputnya.
tinggal jalan sedikit ke depan trus ada angkot no sekian turun depan sekolah persis deh.
kalo mo naik mobil juga sampe 3 kilo bu.
ato: di depan ada alfamart bu, tukang sayur juga tiap hari lewat sini.
taman di ujung sana kalo sore buat anak2 kecil main sambil disuapin mbaknya loh bu.

hahaha...kan enak kalo denger kalimat2 kayak gitu..
jadi berasa adem tentram.

sementara kalo agen cowok biasanya cuma sibuk membicarakan tentang uang,uang dan uang
hihi...no offense yaaa...

terkadang calon konsumen lebih ingin mendapat gambaran tentang gimana kehidupan mereka nanti di rumah yang akan dibeli.
tidak melulu soal uang.

kalo kita memilih menggunakan agen, biasanya segala sesuatunya akan lebih mudah dan cepat.

kita tinggal ongkang2 kaki, nanti mereka yang akan jemput dokumen ke kita dan semua urusan mereka yang atur.
kita tau beres.

kalo cara yang kedua, ya kita sedikit repot tapi setidaknya kita jadi paham prosesnya.

untuk pembelian rumah ini, kami tidak menggunakan agen.
ini usul si penjual soalnya.
secara nanti kan penjual harus kasih fee 3% dari harga rumah buat si agen.

yowislah gapapa urus sendiri, itung2 biar kami paham juga sama urusan beginian.

OK, ini step-stepnya kalo beli rumah second tanpa agen ya:

1. Pilih bank pemberi KPR yang cocok sama kemampuan kita.
untuk KPR ini ada 2 option: KPR syariah n KPR konvensional.
yang lebih menguntungkan tentu aja KPR syariah, karena jumlah uang cicilan yang harus kita bayarkan akan sama sampe nanti lunas.
ga akan naik2 ke puncak gunung mengikuti suku bunga berjalan.
tapi jadinya jumlah uang cicilan di awal jadi berasa besarrrr banged.

untuk saat ini kami ga mampu tiap bulan bayar segitu :)

akhirnya mau ga mau kami pilih yang konvensional.
pilihannya bank nya pun nyari yang bunganya paling kecil!
hahaha...manusia-manusia kere.

bolak-balik cari2 info tentang beberapa bank, pilihan kami jatuh ke bank permata.
di sana suku bunga cuma 9% flat untuk 2 taun.
udah gitu ada program KPR Permata bijak yang bisa ngurangin jangka waktu pembayaran cicilan.

misalnya begini: jumlah cicilan yang harus kita bayar misalnya 3 juta/bulan selama 12 tahun.
tapi kalo kita nabung konstan tiap bulan 500rb ke bank permata, maka bunga dari simpanan dana ini akan diperhitungkan untuk mengurangi jangka waktu pembayaran cicilan, misalnya yang harusnya 12 tahun bisa jadi 10 tahun.

untuk lebih jelasnya bisa buka di sini

*wah...kayaknya punya bakat jadi marketing nih...haha...*

selain bank permata, bank yang lagi jor-joran banged promoKPRnya tuh Bank Niaga n Bank Panin.


2. setelah dapet bank yang cocok, tinggal hubungi salah satu marketing dan siapkan dokumen yang diminta
bisa diliat di link bank permata di atas dokumen2 apa aja yg dibutuhkan.

3. Dokumen akan melalui yang namanya BI checking.
nah ini dia nih yang sering bikin KPR ga disetujui.
jadi dalam tahap ini, ketauan deh semua hal yang berhubungan sama finansial kita.
kalo kita pernah nunggak kartu kredit pun bisa jadi batu sandungan buat pengajuan proses KPR ini.
dalam tahap ini pula, pihak bank akan tau seberapa besar kemampuan kita membayar cicilan setiap bulannya.
jadi kalo kita masih punya cicilan di tempat lain, hal ini akan mengurangi jumlah plafon yang akan diberikan bank.

4. setelah BI checking beres, masuk ke tahap appraisal
nah, di sini pihak bank akan mensurvey rumah yang akan dijual dan akan memberi harga rumah itu menurut versi bank.
udah rahasia umum kalo biasanya harga rumah 'dinaikkan' dulu supaya appraisal dari bank ga jauh berbeda dari harga rumah.

sebagai contoh: rumah seharga 390 juta, bisanya akan dibilang seharga 425 juta ke pihak bank (hihi)
dan nanti pihak  akan memberi harga rumah menurut mereka, pasti jauh di bawah harga rumah tersebut, misalnya 350 juta.
oh well,bank ga akan asal memberikan harga sih.
mereka juga liat dari NJOP tanah dan bangunan, kondisi bangunan dan survey harga di sekitar rumah.

lalu nanti plafon yang diberikan sebesar 85% dari harga 350 juta itu, yaitu 297,5 juta.

untuk appraisal ini, kita harus bayar 250K IDR ke pihak bank sebagai biaya appraisal.

5. stelah appraisal beres, pihak bank akan mengeluarkan SPK *entahlah singkatan apa,biar bapak priyandito yang menjelaskan ya*

nah, di SPK ini akan dirinci biaya2 yang harus kita keluarkan.
biaya2 tambahan tersebut antara lain:
- biaya KPR
- asuransi
- pajak pembelian

jumlahnya lumayan juga.....hiks...
jadi biar amannya kita harus siapin 5-10 % dari harga rumah untuk biaya lain-lain ini.

6. setelah SPK keluar, tinggal janjian buat akad kredit deh.


ribet?
pastinya...tp setidaknya kita jadi belajar urusan beginian.
jadi istri ga cuma tau urusan dapur bukan? :)

oia, untuk contoh kasus di atas, karena harga rumah 390juta dan plafon yang disetujui 297,5 juta, maka selisih 92,5 jutanya harus dibayarkan secara cash ke penjual.
jadi sebaiknya memang sediakan dana 20-30% dari harga rumah untuk uang muka.

mabok?
pastinyaaaa.....
hehe.....

7 comments:

  1. Ambil rumah dimana mbak tya?

    ReplyDelete
  2. aku ambil di serpong park, mbak.
    biar deket sama kantor :)

    ReplyDelete
  3. halo mbak tya, salam kenal..
    btw, selama ini masih kontrak di daerah serpong y?
    range harga rumah kontrakan di sana berapa y mbak?

    thanks

    ReplyDelete
  4. tergantug luas tanah n lokasi bu. tapi rata-rata 10juta/tahun sampai tak terbatas

    ReplyDelete
  5. thanks ya bu... lagi cari property n u gimme sekilas info hehehe :)

    ReplyDelete
  6. Hi tya..aku mau tanya dong. Emang bener ya klo beli rumah second itu harganya minta dinaekin sblm diappraisal sm pihak bank??
    Pengalaman kmu wkt itu begitu juga gak?trs yg disetujui sm bank brp % nya dr nilai jual yg udh dimark up itu?makasih ya tya..

    ReplyDelete
  7. @dian
    iya, waktu itu aku naikin sekitar 30 juta :) trus yg diapprove sekitar 70% dr angka yg udah kunaikin itu.

    ReplyDelete