20 January 2010

Loving You Means Letting You Go

wow...ga bisa ga menitikkan air mata pas baca artikel ini.
tapi justru dapet ketegaran baru setelahnya.
makasih ya mbak clara....

--------

Menjadi ibu bukan hanya sekadar memiliki anak dan merawat serta menjaga mereka menjadi besar. Menjadi ibu juga berarti berani dengan penuh cinta melepaskan anak ke tangan nasib atau merelakan anak melangkah di jalan takdirnya. Seorang anak yang kehilangan ibu disebut sebagai anak piatu, atau kehilangan ayah disebut yatim, atau bahkan kehilangan kedua orangtuanya disebut yatim piatu. Tapi tidak ada nama apapun yang dapat diberikan untuk seorang ibu yang kehilangan anaknya. Peristiwa itu terlalu tragis dan perih untuk dinamai.

Saya kehilangan bayi pertama saya oleh penyakit kekentalan darah yang berlebihan tapi tak pernah terdeteksi sebelumnya. Penyakit ini kerap disebut dengan ACA (Anti Cardiolipin Antibody). Kehamilan saya mulanya tidak bermasalah sama sekali, bahkan saya tidak merasakan mual yang biasanya muncul pada semester pertama. Yang cukup aneh berat badan saya tidak naik. Saya tidak tahu apakah ini semua dipicu oleh kekentalan darah saya, tapi pada semua kehamilan saya, kenaikan berat badan hanya seputar 5-6 kg.

Pada bulan ketujuh, suatu hari saya tidak merasakan gerakan bayi. Sebagai ibu hamil pertama, saya tidak menganggapnya sebagai hal yang aneh. Barulah pada hari kedua, indra keenam saya memberitahu ada yang tidak beres. Saya terus menerus merasa gelisah seharian dan tidak nyaman dengan kondisi ini. Setelah menunggu sampai 2x24 jam dan tetap tidak merasakan gerakan bayi, jam 11 malam, dengan panik saya menelepon dokter yang memberikan advis agar saya segera ke unit gawat darurat.

Saya langsung berangkat bersama suami yang juga mulai panik. Di sana, suster segera mencari detak jantung bayi. Tidak ketemu. Ke mana pun mereka cari di sekitar perut, mereka tidak berhasil menemukan suara degup jantung. Suster berusaha menenangkan saya yang sangat gelisah. Kepanikan mendera saya. Suami meminta pihak rumah sakit segera mencari dokter kandungan yang biasa merawat saya dan meminta untuk diadakan USG.

Ditinggal suami, saya berbaring di ruang gawat darurat, memeluk perut saya dengan rasa takut yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Malam itu, rasanya saya dapat menimang bayi mungil ini biarpun dipisahkan oleh perut dan rahim. Saya merasa dekat sekali dengannya. Salama menunggu dokter, saya berusaha berbicara kepada si bayi agar dia bertahan. Saya mengusap-usap perut saya berdoa agar Tuhan mendengarkan satu permohonan saya. Dokter tiba sejam kemudian. Melalui USG, terlihat tidak adanya gerakan apa-apa. Dokter menjelaskan dengan lemah lembut bahwa bayi saya telah tiada.

Ucapan dokter seperti hantaman kesedihan yang tak terperi. Saya seperti terjatuh dari tempat yang tinggi, melayang, dan tidak bisa berpegangan dengan apa-apa. Saya masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter. Saya melewati seluruh malam dalam denial sampai pagi tiba. Saat dokter mengecek untuk memeriksa bukaan saya (bayi harus dilahirkan sehingga saya diberi obat untuk merangsang kontraksi), saya baru tersadar. Ini riil. Ini nyata. Ini benar. Saya kehilangan bayi saya.

Saya baru menangis. Menangis sampai lama sekali, meratapi kehilangan saya. Sementara di sekeliling saya ibu-ibu hamil 9 bulan yang menjerit-jerit kesakitan sepanjang malam telah dipindahkan ke ruangannya masing-masing karena bayinya lahir dengan selamat. Saya datang dengan perut besar dan akan pulang dengan tangan hampa. Saya kehilangan bayi saya.

Mungkin ini adalah topik yang terlalu pahit untuk para ibu yang sedang merenda harapan dan cinta atas nama kehamilan dan bayinya yang baru saja dilahirkan. Tapi semoga tidak ada kata terlalu pahit karena kita akan diingatkan seorang ibu juga adalah seorang manusia. Manusia yang manusiawi, yang rentan dengan kesedihan dan penderitaan.

Sejujurnya kehilangan karena kematian bukan seperti sakit karena penyakit dan sembuh dengan sediakala setelah menenggak obat yang tepat. Kesedihan karena kehilangan tidak dapat disembuhkan oleh apa pun, bahkan dengan waktu. Sepuluh tahun sudah berlalu, tapi saya selalu mengingat peristiwa malam itu seakan-akan kejadiannya baru kemarin. Saya masih merasakan hangat perut saya ketika saya mendekapnya. Saya masih merasakan wajah bayi saya seperti baru kemarin saya menimangnya. Bulan November adalah bulan bayi saya. Saya akan menghabiskan tiap malam memikirkannya, memasang lilin untuknya, dan berdoa agar dia selalu bahagia di mana pun dia berada.

Para ibu yang mengalami kesulitan hamil atau melanjutkan kehamilannya yang beresiko tinggi karena ACA, hati saya terbang kepada kalian semua. Saya tahu, sungguh susah menjadi hamil dan cemas setiap menit sementara kehamilan bagi perempuan lain tampaknya menyenangkan dan menjadi sumber kebahagiaan keluarga. Percayalah, saya juga seperti itu. Kehamilan selanjutnya (tiga kali lagi, satu kali keguguran, dan dua berhasil, melahirkan dua bayi yang sekarang sudah besar Elysa, 8 tahun dan Catrina, 4 tahun) sungguh merupakan pertempuran dan perjuangan saya dengan maut. Para ibu, jangan takut. Pasangan selalu bisa membantu, tapi kesedihan seorang ibu tidak bisa dihayati oleh siapa pun kecuali mereka yang pernah atau sedang menjadi ibu.

Peristiwa kehilangan mengajarkan saya untuk ikhlas dan menyerahkan semuanya di tangan Tuhan. Serincinya kita merancang masa depan untuk anak tersayang, sebaiknya kita juga merelakan satu lubang agar takdir ikut campur di dalamnya. Melepaskan bukan berarti tidak mencintai, tapi melepaskan terkadang menjadi bentuk cinta tertinggi yang bisa diberikan oleh seorang bunda kepada anaknya.


diambil dari: http://theurbanmama.com/our-stories/87/loving-you-means-letting-you-go.html

2 comments:

  1. so sweett.............. *speechless*

    ReplyDelete
  2. aq yang belum hamil mba... baca cerita ini jadi terenyuh :( saat ini pun ketika kami (aq dan suami) mengharapkan hadirnya calon bayi sudah ada ketakutan gimana ya klo nanti begini...klo begitu... bla bla bla...

    semoga nanti kami (para calon ibu) mendapatkan kekuatan yang cukup besar untuk menerima semua apa yang diberikan baik maupun buruk...

    ReplyDelete