29 September 2009

Pendidikan, suatu bentuk investasi yang nyata

berhubung lagi libur, banyak waktu tersedia untuk bengong, berpikir, mengkhayal, dan juga berbawel ria baik itu di blog, fesbuk atopun twitter.

bengong saya sore ini membawa ingatan pada masa kecil saya.
masa-masa sekolah saya.
masa yang paling membahagiakan kalo boleh saya katakan.
ketika anak kecil lain males ke sekolah, saya sebaliknya.
saya suka sekolah.
saya suka membaca.
saya suka belajar.
sekolah adalah dunia saya.

yeahhh...call me freak.
tapi dari jamannya saya bisa baca, saya membaca apapun.
bahkan alkitab pun pernah habis saya baca.
sekarang mah boro-boro.
haha...

saat saya kelas 2 SD, saya membaca buku pelajaran kelas 6, milik kakak saya.
jadi bisa ditebak, saya termasuk golongan anak pintar.
sampai SMA, saya ga pernah kesulitan kalo cuma dapet 3 besar di kelas.
bahkan ketika lulus SMP pun, ga ngerti gimana, nama saya terdaftar di 2 SMA favorit.
SMA 8 dan SMA 70.
kesalahan komputer mungkin sehingga satu nama bisa muncul di 2 sekolah.
tapi heyy...NEM saya memenuhi.

ketika itu pilihan saya jatuh ke SMA 70.
simply just because lokasinya lebih menyenangkan.
deket Blok M Plaza, PS, dan PIM.
haha...

waktu survey ke SMA 8 saya merasa jalannya mblesek, belum lagi banjirnya.
dan ga ada mall sama sekali.
haha...sorry guys....tapi pikiran anak SMP waktu itu males banged kl mesti sekolah jauh2.

maka jadilah saya siswi SMA 70, yang lagi2 ga kesuliltan kalo cuma 3 besar ajah.

waktu mau UMPTN pun, saya dalam kondisi patah hati berat, baru aja putus sama pacar 3 tahun saya, dan mengisi jawaban dengan mata tergenang air mata.
tapi ternyata UI masih menerima saya, meskipun bukan pilihan pertama.

begitupun ketika kuliah, S1 ataupun S2, saya ga pernah merasa kesulitan menjalaninya.

saya mencintai bau perpustakaan, aroma textbook2 tebal yang bisa dijadikan bantal.
saya menikmati membaca semua teori2 itu dan mencoba mengaitkannya dengan realita hidup.

makanya ketika orang lain melihat hidup saya, mereka dengan mudahnya bilang betapa beruntungnya saya.

hey...mereka ga tau kerja keras di balik itu semua.
mereka ga tau malam2 di mana saya terbangun jam 2 pagi untuk mengulang semua teori2 yang sudah saya baca.
mereka ga tau kerja keras orang tua saya dalam membiayai sekolah anaknya ini.

ya...orang tua saya bukan orang tua kaya raya.
apalagi dengan 3 anak yang harus diurus.
tapi di tengah keterbatasan yang ada, mereka dengan sepenuh hati memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak2nya.

dari TK kami dimasukkan ke sekolah swasta katolik, yang dari segi biaya termasuk mahal untuk ukuran orang tua kami.
makanya ketika itu orang tua kami berpesan, pendidikan swasta ini hanya bisa kami nikmati sampai jenjang SMP. untuk jenjang selanjutnya kami harus berusaha masuk ke sekolah negeri.
dengan pertimbangan biaya tentu saja.

saya cukup sering melihat, mama saya menjual perhiasan emasnya ketika masa kelulusan tiba.
misalnya ketika saya hendak lulus SD, pasti banyak biaya ekstra yang dikeluarkan orang tua saya untuk biaya ujian dan biaya masuk SMP.

dan ga cuma itu, di tengah keterbatasan orang tua saya, mereka tetap memberikan perhatian ekstra untuk pendidikan anak2nya.
dari kecil kami bertiga selalu dimasukkan ke dalam les-les tambahan.
kakak saya les orgen, saya les bahasa inggris, dan adik saya diikutkan sekolah sepakbola di ragunan.
biaya lagi bukan?
tapi orangtua saya insist melakukan itu melihat minat anak2nya.

dan saya juga ga akan lupa.
sejak kecil, orang tua saya selalu menolak apabila kami, anak2nya, mengajak jalan2 ke toko mainan.
tapi apabila kami ingin ke gramedia...hooo....dengan senang hati mereka mengantarkan.

sepertinya mereka punya budget sendiri untuk belanja buku anak2nya.
saya ga pernah tau nominalnya, tp saya selalu mengusahakan dengan jumlah sekian saya mendapatkan banyak buku.
saya cukup melihat gerakan kepala ibu saya.
apabila beliau menggangguk, berarti jumlah buku yang saya beli masih masuk dalam budget.
nah, untuk mendapatkan banyak buku, saya mengakalinya dengan membeli buku yang murah2.
haha...apalagi kl bukan buku cerita rakyat nusantara.



saya ingat, tiap 3 bulan sekali (itu selang waktu yang diijinkan orang tua untuk berbelanja buku) saya bisa membawa pulang 5 buku cerita rakyat sekaligus.
wahh....senangnya bukan main waktu itu.

jadi ketika teman2 SD saya menceritakan koleksi barbie mereka, saya cuma bisa diam.
tapi saya memang tidak tertarik pada boneka mainan itu.
saya lebih senang ketika ulangan IPS saya mendapatkan nilai 100 karena saya bisa menjawab semua lagu daerah, nama pahlawan, dan tokoh dalam cerita rakyat di Indonesia ini.

oia, setiap kali mendapatkan posisi 3 besar di kelas, orang tua selalu memberikan hadiah dengan mengajak ke gramedia meskipun belum selang 3 bulang dari kunjungan terakhir.
hahaha...

menginjak SMApun orang tua masih memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak2nya.
3-3nya dimasukkan les bahasa inggris LIA, yang kami tau biayanya ga sedikit.
menjelang kelas 3 SMA pun kami bertiga diikutkan kursus SSC supaya bisa masuk ke universitas negeri.
lagi2 saya tau biayanya mahal.

tapi ya itulah...saya belajar bahwa memang pendidikan adalah investasi yang terbaik.
dengan terbiasa dibelikan buku, instead of mainan, saya jadi suka membaca.
dengan suka membaca, saya dengan mudahnya melalui jenjang pendidikan saya.
dan dengan lancarnya memsuki dunia pekerjaan.
apabila kepuasan untuk orang banyak diukur dengan angka, gaji saya, meskipun menurut orang cuma guru, bukan pekerja kantoran, ga kalah koq sama pegawai BI...hahaha.....piss ya bu anggi :)

orang tua saya menginvestasikan uangnya untuk pendidikan saya, dan sekarang saya menikmati hasilnya.
orang tua pun tidak meminta kembali bentuk investasi itu.
saya rasa mereka cukup bahagia melihat kehidupan saya sekarang.


makasih ya ma...pa....

*lagi kangen sama orang tua*

2 comments:

  1. sama say.. orang tua ku juga gitu.. Kalo minta beli mainan or ke toko mainan alasannya segambreng. Tapi kalau ke Gramedia langsung dikabulin deh. Mau beli buku banyak asal bermanfaat juga ayok ayok aja.. :)
    Tapi I agree, memang pendidikan itu investasi ko. Salut sama orang tua mu say. Semoga banyak orang tua yang berpikiran seperti itu juga yak..

    ReplyDelete
  2. iya....kudoakan smg nt Mr.Mrs.Karimuddin jadi orang tua yang bijak. tapi aku percaya kalian pasti bisa koq! :)

    ReplyDelete