10 July 2008

OOT

dunno what to do.... my things with client have been done by the afternoon.. so what am I supposed to do now?

signing on my Y!messenger... off course she is off line... rite now, she might be doing a heap of work in her new office while I'm stuck here having nothing to do... :)

after checking emails and making an appointment with Ms Anne from United-WO for the next Saturday, I cruise on Kompas.com and find a link to Kompas community: the citizen journalism... well, it sounds interesting... Clicking on it then!!

reading one article to another one, I finally found the interesting one:

Balada Surabi Oncom Mayones
Prita D.U - Jakarta

Bandung, akhir pekan lalu. Si Kakak dan Si Adek sudah pulas di tempat tidurnya setelah kenyang bermain dan kenyang makan malam. Ini malam pertama dari dua malam yang akan kami habiskan di Bandung, rencananya pada hari Sabtu siang kami akan menghadiri pernikahan seorang sepupu dan kembali ke Jakarta hari Minggu.

Suami mengajakku jalan sebentar, menemaninya menjemput adiknya yang akan menyusul dari Jakarta dengan travel.
“Rada dingin ya Maw, mau ngemil surabi ga? Dimas toh baru sampai 1 jam lagi”
“Paw, gimana Maw mau langsing coba? udah jam 10 malem masih diajak ngemil surabi.. tapi ayuk aja deh, hehehe”

Kami menuju daerah Setabudi, di sana ada beberapa penjual surabi (well sebetulnya kalau mau beli yang dekat dari penginapan kami juga banyak sih.. kemarin pengen aja ke ‘atas’). Karena aku cuma berpiyama saja, kami pilih pesan surabi untuk dimakan di mobil. Pilihan rasa di daftar menu banyak sekali, akhirnya aku pilih surabi oncom. Suami lebih suka makanan manis, dia pilih coklat pisang. Surabinya oncomnya ternyata enaak banget; body-nya tebal dan padat tapi tingkat kematangannya sempurna. Topping oncom pedasnya asoi. Duh. Mantap dah! Nyesel cuma pesan satu, hehehe.

“Enak Maw?”
“Enak banget Paw… mau nyoba?”
Suamiku menggeleng, dia memang nggak doyan oncom.
“Ini topping oncomnya enak pisan lho Paw, tapi Maw ga kebayang kalau makan surabi oncom mayones yang kaya di daftar menu tadi.. aneh kali ya.. mending oncom biasa kayak gini…” aku nyerocos mengagumi si surabi oncom sementara suami cuma manggut-manggut keasyikan makan surabi coklat pisangnya.
“Paw besok jajan surabi lagi yuk?”
“Ayo aja…”

Keesokan malamnya, suami pergi lagi beli surabi, kali ini ditemani mertua. Aku nggak ikut karena ada sahabatku yang berkunjung ke penginapan. Tentu aku sudah pesan surabi oncom, yang disambut anggukan oleh suami. Asyik, pikirku, sambil terbayang-bayang surabi idola.

Waktu suami sudah datang...
“Lho Paw kok surabinya begini?”
“Itu surabi oncom mayones Maw, yang spesial…”
“Lho kok bukan yang kayak kemarin?”
“Begini, tadi Paw beliin Ti (pengasuh si Adek) surabi oncom biasa, masa buat Maw dibeliin yang sama dengan yang buat Ti? Yang pake mayones itu katanya lebih enak Maw, lebih spesial” sahutnya kalem sambil nggelosor di tempat tidur dan mulai main game di ponselnya, pose andalannya kalau sudah mulai ngantuk.
“Paw, bukannya kita pernah diskusi kalau oncom itu ga cocok sama mayones?” semburku.

Seketika itu sih aku maluuu banget sama ucapanku. Berlebih-lebihan deh kata-kataku itu , wong yang kemarin itu sejujurnya kan cuma pendapatku saja, bukan “diskusi” dengan dia, dan yang kedua since I know him well, buat suamiku bahasan tentang “cocok tidaknya oncom di-pairing dengan mayones” rasanya mirip dengan membahas perbedaan antara warna ‘mauve’ dengan ‘fuschia’ dengan seorang montir mobil. Alias informasi yang masuk kuping kiri langsung keluar di kuping kanan karena ga nyambung. Tapi.. karena judulnya sudah ngambek aku malu kalau tahu-tahu “menyerah”. Iihh.. norak sekali deh tingkahku waktu itu… hihihi….

“Hmm??” Cuma itu sambutannya sambil tetap serius memandang layar handphone yang menampilkan bola-bola berpantulan.
“Iya, maksud Maw, Maw ga mau surabi oncom mayones…” berhubung sudah malu dengan diri sendiri, suaraku mulai pelan, tapi tetap sambil cemberut. Dan kalimatku terus berlanjut .. bahwa menurutku rasanya akan aneh, bahwa aku sudah kebayang-bayang alias kabita rasa surabi oncom, dan lain sebagainya.

Dalam hati sebetulnya aku ‘tersentuh’ karena niatan suami membeli surabi oncom mayones adalah supaya aku dapat yang spesial… tapi somehow saat itu kok aku pengen ngomeeel aja.

Kulirik suamiku, dia masih asyik dengan ponselnya. Sejurus kemudian, ditutupnya si ponsel, dan dengan senyumnya yang tulus dia memandangku. “Yuk Maw, kita cari yang kamu pengen”.

Ada “deg” terasa di hatiku. Bukan rasa ‘bangga’ bisa mendapatkan keinginanku yang remeh itu, tapi rasa malu yamg malah semakin besar. What was I doing? Sepanjang waktu aku ngomel tadi, bitching over nothing actually, suamiku tetap bersikap baik dan tidak membalas omelanku.

“Maafin aku ya Paw.. aku kayak apaan aja minta surabi aja pakai ngomel-ngomel”
“Iya gapapa kok, tadi Paw sebetulnya mikir jangan-jangan kamu lagi ngidam kok tumben minta sesuatu pakai ngotot” katanya sambil meremas tanganku.

Akhirnya kami nggak ke Setiabudi, cukup beli surabi di Pasar Simpang Dago yang lebih dekat. Rasanya mungkin beda dengan yang pertama, tapi makan surabi oncom sambil ditemani suamiku yang baik hati itu, yang cuma senyam-senyum ngeliatin aku makan, believe me, enaaak banget!

Hmmm, somehow I'm impressed with the story. from the simple matter, there comes the good thing to learn. it is about how we--as a couple--should not get imbued by any essentially unimportant, yet insignificant little things in life. it's not that worth to argue with our partner just because we do not get something that we long for... besides, there is a reason why they do that to us. perhaps the same reason as the husband did to her wife? :)

LORD, bless me with the gent, wisdom and patience to love and to comprehend and to understand her for the rest of my life.........

2 comments:

  1. mudah2an laki gw ntar trus bisa sabar ama gw yang super manjaaa....

    ReplyDelete
  2. wahh..asal bukan jadi alasan untuk terus begitu ya Bu.. hehehe :p

    ReplyDelete