28 April 2008

Wedding preparation part 1

akhirnya .....

Jadi…sebelum cari-cari gedung n catering n lain-lainnya, ada baiknya membahas masalah BUDGET terlebih dahulu. Di sinilah enaknya kalo udah bisa terbuka sama pasangan. Dalam kasus gw n mas ditto, kita jujur-jujuran aja siap dana berapa. Trus kita tentukan dulu gimana pembagian keuangannya. Misalnya mas ditto yang ngurusin gedung, sementara gw ngurusin kartu undangan. Jangan sampe masalah uang ini jadi bom waktu di kemudian hari. Libatkan juga orang tua, misalnya kita jujur aja kalo kita Cuma punya dana sekian n masih butuh suntikan dana (hehe…). yang terpenting juga, jangan sampe uangnya dihabisin Cuma untuk pesta sehari itu. Kehidupan setelah pernikahan jauh lebih penting dibandingkan pesta. Sebaiknya teteup menyisakan untuk tabungan.

Nah setelah pembicaran budget beres, baru tentukan tanggal dan sebagainya.

Itu persiapan teknisnya, nah kalo persiapan mental gimana?

Cukup klise yah sepertinya. Yang pasti yakinkan dulu kalau memang kita sudah siap hidup berdua. Dalam artian, kita mulai bisa menanggalkan keegoisan dan bisa menerima dia sebagai partner hidup.

Gw pernah baca tulisan editor di sebuah majalah wanita. Intinya pagi itu si editor melihat sepasang kakek-nenek yang sedang berjalan pagi berdua dan masih asyik mengobrol. Dalam tulisannya, editor itu bilang begini: ‘saya kagum melihat pasangan tersebut. Seberapa perih ya kompromi yang sudah mereka jalani? Seberapa sakit ya penyesuaian diri yang mereka lakukan? Tapi mereka masih Nampak bahagia….’

Kalo boleh jujur, tulisan itu yang membantu gw meyakinkan diri bahwa, YUP, saya rasa saya bisa menikah dengannya :)

Buat gw pernikahan itu adalah suatu bentuk kompromi seumur hidup. Nah untuk itu diperlukan komitmen dan kerja keras yang pastinya seumur hidup juga. Dari situ gw melihat sosok mas ditto ini (halah…) adalah sosok yang mampu membuat gw mau melakukan kompromi-kompromi ini..

Hal utama yang membuat gw memutuskan menerima dia sebagai teman hidupku (hwehehe..) adalah kemampuannya untuk mau terus membuka diri. Dalam artian, dia selalu mau berproses dan terbuka terhadap diskusi-diskusi yang mungkin panjang dan melelahkan. Gw membayangkan, setelah menikah nanti tentunya banyak hal yang harus dibahas dan dikompromikan dengan suami….nah dari situ gw menilai mas ditto cukup mampu untuk melakukan proses tersebut. Gw ga kebayang punya suami yang keras kepala, arogan, dan mau menang sendiri dalam menentukan sesuatu :)

To be continued…….

1 comment:

  1. Lagi persiapan AWAL perNikahan.
    Semoga saya dapat terinspirasi dari tulisan mbak.
    Btw,tanggal mbak nulis ini,kami baru 2 minggu berpacaran,setelah sekian lama berteman.
    Semoga memang Benar aq Patahan Tulang Rusuknya.
    Amien.
    DOAin ya mbak?:-)

    ReplyDelete